Hidup.
4 April 2018. Hidup adalah pilihan. Apakah benar begitu?
Aku tidak tahu.
Sometimes aku memang menyadari bahwa aku harus memilih jalan hidupku sendiri, memilih antara hangat atau dingin, jauh, atau dekat, manis atau asin, yang pada akhirnya akan mempengaruhi jalan hidupku selanjutnya. Aku orang yang pemilih, namun sulit untuk menentukan pilihan, apalagi ketika ada beberapa pilihan yang semua terlihat baik-baik saja. Antara moccachino atau latte, antara vanilla latte atau green tea latte, aku bisa memikirkanya selama 30 menit lebih, walaupun itu tidak pernah terjadi namun bisa saja terjadi jika memang itu adalah dua hal yang sama-sama aku ingini dan tidak bisa aku tinggalkan.
Beda cerita jika ternyata ada reason lain yang melatar belakangi sebuah pilihan itu ada. Karena orang lain, atau karena keadaan misalnya... yang membuat kita tidak bisa berkutik, dan pada akhirnya kita memilih dengan terpaksa, tidak dengan hati yang iklas untuk menerima.
Satu yang kupercayai, kemana kita melangkah, belum tentu kita tahu kemana kita menuju, namun di situ pasti ada proses.
Hidup sudah ada yang atur, sudah ada yang menuliskan, siapa penulisnya? Sang Maha Pencipta, tentu saja. Aku suka sekali menganalogikan Tuhan sebagai Penulis Agung. Kita semua tahu bahwa Tuhan yang Termulia, yang berkuasa, sang Creator yang tidak bisa di'baca'. Lalu aku membayangkan Tuhan menulis cerita di selembar kertas, ternyata tidak sesederhana itu! Entah seperti apa yang di tulisNya, apakah sebuah cerita berbentuk narasi lengkap dengan diksi yang indah dan menyayat hati, atau sebuah cerita dengan peta konsep yang bercabang-cabang, yang pasti karyaNya sangat complicated, unexpected.
Lalu, jika hidup kita sudah ada yang atur, mengapa kita harus memilih?
0 Comment