CHÉRIE.

22 Maret 2018. Sometimes in life we forget how beautiful our world could be. I thank God for giving me you, Eleazar Evan Moeljono.


Beberapa waktu setelah kita berbincang lewat telepon, mengingat bagaimana saat itu kita sebagai remaja merasakan jatuh cinta, cinta monyet? Mungkin iya saat itu…
Ketika aku mencoba untuk mengingat lagi ke belakang, menelusuri waktu demi waktu, ketika aku masih menjadi anak baru di Ambarawa, tidak terpikirkan sama sekali kita akan menjadi dekat.
Mundur lagi ke belakang, ketika aku masih di Tangerang dan diberitahu bahwa aku akan sekolah di salah satu SMP Swasta di Ambarawa, aku membayangkan sekaligus bermimpi mempunyai seorang teman lelaki yang baik dan dia akan menjadi sahabatku. Aku membayangkan, kami akan bermain bersama, menyelesaikan sebuah misi, pergi ke suatu tempat bersama-sama, dan kami saling berbagi satu sama lain.
Aku memang tidak mendoakan itu, yang hanya mimpi belaka anak yang baru aja lulus SD. Namun itu yang terlintas dibenakku, merindukan seorang teman lelaki yang akan menjadi sahabat.
Lalu, setelah aku datang ke Ambarawa, aku bertemu dengamu, kita saling mengisi, akupun tertarik, lalu kita berteman…
Ternyata, Tuhan seperti sudah memberi spoiler dari cerita yang Ia tulis untukku. Bahkan aku tidak menyadarinya, semua ada proses… dan proses itulah yang membuatku yakin bahwa ternyata inilah cinta.
Ketika aku diproses tidak sama dengan perempuan lain, aku pesimis, aku merasa tidak sama dengan teman-temanku, merasa tidak sejalan, sedangkan aku memilih untuk diam dan bersenang-senang dengan duniaku sendiri.
Di saat itulah aku merasa berdiri sendiri, tidak ada teman sepemikiran dan sejalan. Ya, lagi-lagi aku memang tidak menantikan dan mendoakannya, namun Tuhan izinkan aku mengenalmu di bawah pohon beringin depan sekolah saat pramuka tanpa aku minta.
6 Tahun sebelum kita berpacaran, kamu pasti sudah tau ceritanya bagaimana aku setia menunggu. Sebenarnya, aku tidak menunggu, walaupun saat SMP kamu minta aku untuk nunggu… Kelihatannya memang begitu, tapi jujur, di sisi lain aku juga mencoba untuk melepasmu, tapi tak bisa. Kalau kamu ngerasa aku ngejar kamu, bukan, bukan ngejar.. aku hanya pergi kemana seharusnya hatiku pergi.
Melepasmu itu sulit sekali, tau.. Karena aku seperti menemukan “setengah dari aku” . Kamu pergi, maka aku akan sangat kehilangan, jika aku yang pergi? Aku seperti bunuh diri.
Aku juga bingung, umur segitu sudah mikir untuk punya pasangan 1 seumur hidup, mencoba berkorban, menahan gejolak cinta monyet yang menggebu-gebu, stay calm dan terus bertanya-tanya apakah kamu orangnya?
Sampai pada akhirnya, kamu sendiri yang menjawab pertanyaan yang terus berputar-putar di benakku.
6 hampir 7 tahun ini bukan waktu yang sebentar. Aku menyadari bahwa aku banyak belajar, diproses, semakin mengerti hidup, mengerti diriku sendiri.. banyak sekali, membuat hidupku lebih berarti luar biasa.
Itu mengapa aku sangat amat bersyukur kamu ada.
Terima kasih sudah ada,
Di sini aku menyadari bahwa Tuhan benar-benar menulis cerita untukku, dimana bahkan aku tidak bisa lari untuk keputusankan sendiri.
Tuhan menulis cerita dengan sangat indah, dan aku sangat bahagia dibuatnya, sangat tidak mengecewakan, bahkan jauh di atas ekspektasiku.
Iya, kamu ada, aku merasakan bahagia yang tak terukurkan.
Maka, jika kamu ingin aku bahagia, tetaplah ada.
Selamat untuk 19 tahun yang udah berusaha kamu lalui dengan banyak struggle bertebaran di sana-sini.
Tinggal satu tahun lagi kamu meninggalkan masa belasa tahun, nikmati itu bersama Tuhan di hidupmu, karena hidup nggak bakal keulang lagi, kan?
Aku rindu dan akan sangat senang kalau kamu berhasil dalam hidupmu, berhail menyenangkan hati Tuhan.
Perjalanan masih sangat panjang, kami semua yang menyayangimu akan selalu berdoa dan memuji Tuhan yang akan dengan luar biasa menulis hidupmu.
Dan aku,
aku bersedia untuk terus ada di dalam cerita hidupmu, menemanimu berjalan, jika kamu mau.

Share:

0 Comment