Biru atau Coklat?


5 April 2018. Aku melihatnya tersenyum padaku.



Saat itu pertama kali aku hangout bareng dia, bersenang-senang berdua, melalang demi membunuh waktu.

Hari Sabtu yang kutunggu-tunggu pun akhirnya datang juga. Siang itu kami berdua berkendara menggunakan sepeda motor, menuju salah satu tempat makan ayam goreng yang terkenal dengan saus kejunya, tau kan?  Sesuai janji yang sudah lama kutagih-tagih, akhirnya siang itu kami pun pergi juga.

Jarak yang lumayan jauh tidak mengurungkan niat kami untuk makan ayam goreng yang sudah lama kami idam-idamkan. Di perjalanan sempat gerimis tapi deras, butir airnya kecil-kecil namun sangat banyak jatuh menimpa manusia di bawahnya, akhirnya kami pun berehenti sejenak untuk mengenakan jas hujan.

"Nih, pake ini.." Ucapnya sembari menyodorkan jas hujan merah maroon yang masih baru.
"Lha Kak Anom pake apa?"
"Ini..." Dia mengeluarkan jas hujan warna biru yang sudah sobek-sobek.
"Lhoo..."
"Ndakpapa." Aku menatapnya sebentar, memastikan dia iklas atau tidak.

Kami pun bergegas mengenakan jas hujan, sebelum air hujan semakin menyerang tubuh kami.

Sesampainya di tempat, kami memesan dua porsi ayam goreng beserta nasi dan saus kejunya. Dia duduk di depanku, kami makan, kami diam. Dalam diam, kami menikmati keberadaan satu-sama lain, ditambah lezatnya ayam goreng yang kami makan, dan hujan gerimis yang masih turun, siang itu terasa nyaman.

Saat itu masih siang, tidak tau harus kemana lagi untuk membunuh waktu. Sambil menunggu hujan reda, kami mencari-cari ide kemana kami harus pergi. Sedikit awkward memang, Hampir 20 tahun kami bersama, baru kali ini kamu hangout bareng, kalau di rumah kami seperti Tom and Jerry, namun saat itu Tuhan mengizinkan kami menjadi satu team untuk satu tujuan, makan ayam goreng, bersenang-senang dalam diam.

Sekitar 15 sampai 20 menit kami menunggu, namun hujan tak kunjung reda. Terpaksa kami harus segera pergi mengingat waktu yang harus kami bunuh, jangan sampai waktu membunuh kami. Saat itu juga kami memutuskan untuk pergi ke toko buku, tempat favorit kami berdua, tempat dimana kami bisa melalang buana pada dunia masing-masing tanpa harus menghabiskan langkah kami dari satu tempat ke tempat lain.

Aku suka sekali dengan notebook, sebuah buku tulis yang dikemas dengan berbagai model, ada yang kecil ada yang besar, ada yang bertema ada yang polos, warnanya lucu-lucu yang bergambar juga tak kalah menarik, membuat orang yang menulis di atas notebook tersebut merasakan bahagia.

Nah saat itu aku menemukan sebuah notebook  yang bagus banget! Ukurannya kecil menggemaskan dengan hardcover biru muda yang dihiasi gambar buah cherry kecil-kecil yang membuatnya terlihat sangat lucu!

Di rak lain, aku menemukan notebook  yang tak kalah menarik, warnanya coklat polos, ada elemen vintage di covernya, terlihat sangat elegan!

 Aku mulai bingung harus membeli yang mana. Yang biru atau yang coklat?

5 menit...
"Kak, bagus yang mana?"
"Bagus semua.." 

10 menit...

"Yang biru apa yang coklat ya?"
"Yang coklat..."
"Lho.. tapi yang biru bagus!"
"Yaudah yang biru." 

20 menit...

Baru aku sadari kalau aku tidak membawa uang. Dia hanya tersenyum :)

 Akhirnya kami pun pulang, hujan sudah reda, hanya rasa lelah dan bahagia yang membekas saat itu.

Sampai rumah, Papa dan Mama tersenyum melihat kami berdua akhirnya bergabung menjadi satu team demi ayam goreng dan toko buku. Aku bahagia, namun belum merasa puas untuk bersenang-senang, karena besok pagi dia harus kembali ke tempat kerjanya yang cukup jauh dari rumah.

Mengingat kami sudah bukan lagi anak kecil yang bisa dengan bebas bersenang-senang pada hidupnya. Kami masing-masing sudah mempunyai tanggung jawab yang harus kami jalani. Dia harus bekerja, dan aku harus kuliah di tempat yang sangat jauh. Kami menyadari bahwa kami akan semakin tua, waktu akan membunuh kami jika kami tak lakukan sesuatu, karena itu kebersamaan menjadi hal yang sangat berharga.

Aku bersyukur karena adanya jarak dan kesempatan yang membuat kami semakin sadar bahwa masing-masing ada untuk sama lain adalah anugerah yang Tuhan beri. Kami berdua ada pada dunia yang berbeda, kami sama-sama selalu sibuk pada akivitas masing-masing, sama-sama cuek, sama-sama tidak menginginkan satu-sama lain.

Namun pada akhirnya kami menyadari, dua anak yang lahir dari satu rahim tidak benar-benar berbeda, seperti diagram venn di mana ada satu titik kami benar-benar menikmatinya bersama-sama, makan ayam goreng dan pergi ke toko buku misalnya, membahagiakan sekali.

Dia biasanya akan marah-marah jika aku melakukan suatu kebodohan, tapi saat aku bingung memilih notebook antara yang biru atau yang coklat dan ternyata aku tidak membawa uang, dia hanya tersenyum padaku... atau mungkin sebenarnya dia tersenyum sambil mengumpat di dalam hati.

Aku tidak tahu.

Hahaha....

Share:

0 Comment