Pemberontak
30 Oktober 2014. Dengan langkah gontai aku menunduk, merasakan hari baru berjalan di hidupku. Matahari menggantung menunggu putaran bumi dari pagi ke pagi, meninggalkan jejak arti.
Suara petikan gitar membangunkanku saat itu, Kazemidori-Depapepe. Alunannya yang lembut perlahan memaksaku untuk membuka mata. Ketukan pintu berirama terdengar bersamaan dengan teriakan lembut wanita yang selalu ku panggil Mama.
Jelas bayang-bayang itu masih ada. Bagaimana aku berjalan menyusuri kampung samping sekolahku, menyapa orang-orang disana, melirik bocah-bocah SD yang bergurau riang dengan teman sebayanya, menatap langit cerah yang tersenyum menatapku, merasakan jari-jariku menyentuh pagar tembok bercat putih yang kusam , entah mengapa itu menjadi penyemangat.
Namun, pagi ini aku berjalan tak terarah, tak peduli orang-orang melihatku, tak peduli dengan bocah-bocah SD yang bercanda riang di belakangku, tak peduli langit tersenyum menyapaku, dan aku sangat tak peduli ketika tembok kusam itu sudah dicat ulang, sehingga tampak bersinar.
Seperti biasa aku melangkahkan kaki ke suatu tempat dimana manusia mendapatkan transportasi. Seperti biasa pula ketika melewati bangunan dimana aku menghabiskan masa SMP, aku terbayang kenangan indah yang terjadi di setiap sudut sekolah tersebut.
Hingga akhirnya aku menumpang sebuah bus yang biasa mengantarku menuju sekolah 'mimpi buruk' itu. Ketika kami duduk, aku dan dua orang temanku. Kami diam membisu, entah apa yang ada di pikiran mereka, tetapi sesuatu berkecamuk di hati. Aku benar-benar tak rela mereka pergi membiarkanku melawan dunia di luar sana. Sangat sulit menahan genangan air mata yang hampir tumpah saat itu. Aku hanya bisa diam-menarik napas-dan diam.
Mimpi buruk itu pun tiba...
Jujur, bayangan itu masih ada. Aku aku ingin sekali memeluk mereka, menahan mereka ketika satu persatu pergi melanjutkan hidup mereka sendiri; ketika mereka turun dari bus dan berpisah di depan ruang guru. Aku benar-benar tak rela mereka pergi mebiarkanku terhisap ke suatu mimpi buruk.
Aku masuk ke dalam ruangan yang penuh dengan anak-anak linguistik. Aku berusaha tersenyum lebar sembari melangkahkan kaki menuju tempat duduk favoritku. Ketika itu aku duduk diam. Lagi-lagi semuanya berputar di otakku, membuat perutku bergejolak seperti ingin memuntahkan segala emosi yang menggerogoti hidupku selama ini.
Jam demi jam berlalu. Setiap detik di dalamnya ku yakin mempunyai cerita. Ketika guru Sejarah yang masih sangat belia itu mengajar sesuatu yang 'kosong' membuatku tak mendapatkan pengetahuan, tapi justru membuatku berangan-angan menjadi guru yang lebih baik darinya. Mengajar murid-muridku dengan cara yang menyenangkan, yang tidak akan membuat murid-muridku menyibukkan diri dengan hal-hal kecil yang menjerumuskan.
Lalu, ketika guru bermarga Zhou itu membagikan hasil ulangan tengah semester dan akhirnya aku hanya menghela napas, nilaiku sempurna, namun itu tak mengobati. Aku mebayangkan 100 adalah 1, yaitu aku, dan dua 0 lainnya adalah mereka dan hidupku. Aku justru merasa terhantam benda keras, yang membuatku sesak dan akhirnya tak sadarkan diri. Begitu konyolnya aku.
Semuanya seperti berjalan pelan dihatiku dan meninggalkan jejak kepenatan disana. Belum lagi beberapa pelajaran yang membuatku semakin lelah. Ditambah beberapa celotehan teman sekelasku yang sama sekali tak berkelas, kasar, hina, penuh kemunafikan. Aku tak lagi sadar diriku yang introvert ini justru semakin menjadi introvert. Membuatku benar-benar lelah menghabiskan hampir seluruh hariku di tempat itu.
Pukul 15.00, waktu untuk kami semua berbaris di lapangan, menjalani suatu prosesi pembukaan yang wajib di lakukan oleh semua murid angkatanku. Terlihat kakak pembina dengan atasan kaos berlengan panjang warna hitam merah dan bawahan coklat khas, sangat membuatku iri. Aku melirik baju coklat muda yang ku kenakan, tebal, panas-sangat tidak nyaman dibandingan apa yang kakak pembina kenakan. "Seharusnya mereka merasakan panasnya baju ini... tidak adil" teriakku dalam hati.
Ketika aku dihukum karena tidak mengenakan ikat pinggang (yang sebenarnya tidak diinformasikan bahwa ikat pinggang wajib dipakai) Kakak pembina mengomel dengan arti kosong, yang pasti dia hanya marah-marah, akting.
"Kenapa seperti ini? Kami ingin kalian disiplin..." katanya. Iya.. katanya. Di dalam hati, lagi-lagi aku mengumpat dengan rasa tidak bersalah.
Coba lihat, di hari-hari biasa, apa mereka memakai seragam lengkap dengan dasi dan ikat pinggang? Apa mereka menyadari bahwa rok yang mereka pakai jauh di atas lutut? Apa mereka mengerti bahwa ucapan mereka tak mencerminkan kelakuan mereka? Yang ada mereka merasa paling benar saat itu, merasa dialah yang paling berpengalaman.
Aku benci itu. Aku benci ketika mereka berakting demi kewajiban tetapi justru membuat kami bergidik.
Aku ingin hujan trurun saat itu juga. Untuk menghapus penat yang merajalela. Kamar menjadi salah satu alasan mengapa aku ingin sekali pulang dari mimpi buruk. Di tempat itu, aku berbaring, merasakan sendi-sendi di tubuhku menormalkan letaknya. Benar saja, aku mengeluarkan semuanya, hingga saat ini. Genangan air tumpah dari pelupuk mataku, terus-menerus. Aku benar-benar lelah menjalaninya, sekaligus aku takut akan hari kedepan, aku tak mau jatuh.
Seperti kehilangan diri sendiri? Dimana aku yang dulu? Apakah dia melarikan diri disaat proses adaptasi berlangsung? Bayangkan saja, setiap hari aku harus merasakan adegan-adegan yang sangat menyayat kepercayaanku itu. Lelah...
Dan gerimis pun menyapu sebagian permukaan bumi...
Aku rindu hujan. Benar-benar rindu hujan. Ketika hujan itu datang, sepercik bisikan menggama di telingaku, menuntunku untuk mengambil sebuah Alkitab yang sudah seminggu tak ku sentuh. Aku lelah, dan rela meninggalkan Tuhan 'sementara waktu'. Betapa jahatnya aku. Namun, Tuhan seperti memegang tanganku membuka kitab itu pelan-pelan, lembar demi lembar.
Tuhan berbisik, Tuhan ingin aku seperti emas yang diuji kemurniannya oleh api. Tuhan ingin aku tetap percaya pada kisah yang Dia tulis.
Dan seketika, aku berlari pelan, membuka pintu lalu berdiri di teras rumahku. Merasakan angin semilir menyapu tiap inti kulitku. Percikan air hujan yang dingin itu seakan pertanda bahwa aku bisa melewati semuanya bersama Tuhan dengan bebas. Seperti buatiran air yang turun dari langit itu.
Sebuah jejak arti yang selalu membekas. Dimana aku bisa merasakan sentuhan tanganNya, membawaku bebas berkeliling menggantung pada matahari. Menghadapi semua proses ini. Hanya menabur, lalu aku akan menuai.
*(1 Petrus 1 : 5-10)
Tags:
ShortWords
0 Comment