Selai Kacang


1 Maret 2015. Seperti seekor kupu-kupu. Ia indah, mengepakan sayapnya dengan percaya diri terbang tanpa arah dengan bebas. Ia benar-benar tak kenal lelah, bahkan tetap menari-nari di udara walau dengan bermandikan teriknya mentari. 






Ketika sesuatu yang indah menampakkan dirinya, "Hmm... apa ini tidak nyata, lagi?"


Teringat ketika aku baru saja mencoba untuk menjadi gadis yang mandiri, pagi itu, seorang wanita berambut pendek dengan baju batiknya turun dari bus yang ku tumpangi. Ia turun di depan sebuah Sekolah Dasar, sekilas setelah mengucapkan, "Terima kasih, Pak" kepada Pak Kernet, segerombol anak SD berlari menghampirinya dengan tawa riang. Mereka berebutan untuk menyalami wanita yang tak lain adalah guru mereka. Beberapa anak juga berusaha meminta untuk membawakan tas yang dibawa wanita tersebut.
Sedikit senyum pun menghiasi wajahku yang kering saat itu. Aku heran, "Bagaimana ia melakukannya?"


Tak berapa lama setelah bus yang ku tumpangi menjauh dari tempat tersebut, seorang wanita tua tampak kebingungan mencari tempat duduk.  Akhirnya ia pun hanya berdiri di samping kursi penumpang, berdesak-desakan dengan penumpang lain yang  juga tidak mendapatkan tempat duduk. Wanita tua itu berdiri tepat di sebelahku. Dengan sigap, aku pun berdiri dari kursi penumpang lalu tersenyum penuh arti kepada wanita tua tersebut. Namun dibelakang ku terdengar bisikin gadis-gadis SMA, "Sok baik banget... biar dipuji!"


Baru saja aku mendapat informasi yang tercetak di otakku, ketika aku melakukan kebaikan.. sesuatu yang baik akan datang pula kepadaku. Itu palsu.


Aku juga teringat ketika beberapa waktu lalu, aku mendapat quality time  bersama salah seorang temanku. Dia bercerita banyak tentang semua masalah yang ia hadapi. Ketika ia bercerita tentang hubungan keluarganya yang menggantung tak terarah, aku bisa melihat dengan jelas di sudut matanya tampak air mata tak yang sanggup lagi terbendung. Sesaat, sesuatu seperti mencekik leherku, rasanya sesak dan rasa sesak tersebut membuat dadaku seperti teriris. Karena saat itu pula aku mengingat, ketika ia benar-benar menjadi orang yang tampak tak mempunyai beban, tersenyum lembut, mengerjakan apapun dengan santai. Aku menyadarinya, semua itu palsu. Ia berusaha membuat semua orang percaya pada senyumnya, padahal saat itu juga ia tersakiti.


***


Baru-baru ini aku banyak berpikir. Semua orang mempunyai perasaan, dan mereka semua dapat menjadi peka di saat waktu yang tepat. Kepekaan tersebut seperti tumbuhan putri malu yang saat disentuh, daunnya akan menutup. Ketika perasaan tersebut masuk kedalam hati, ia akan benar-benar menusuknya. Yang aku pikirkan adalah, mereka masih bisa tersenyum!


Semuanya tampak seperti drama yang tak kunjung usai. Semuanya tampak palsu ketika dilihat.


Aku bersyukur ketika aku diijinkan untuk mengasah kemampuanku. Orang tua ku mempersilahkanaku untuk belajar apa yang aku mau. Semua tampak indah di depan, aku bisa mendapat beasiswa penuh ke negara tetangga, aku bisa dengan pandainya menunjukan kebolehanku pada teman-temanku, namun ketika aku melangkah.. ketika aku merasakan perjalanan itu, aku tak tahan...  bunga itu telah layu. Keindahan sesaat.


Ketika Tuhan mengijinkanku merasakan cinta pertama kepada seorang pria. Semuanya seperti menjanjikanku. Senyumnya yang begitu lembut, kata-katanya yang membuatku melayang, sikapnya yang selalu mebuatku terkagum, semuanya itu tampak asli di depanku. Aku bisa merasakan indahnya saat-saat tersebut, seperti seorang putri yang bertemu pangerannya, serasa dunia hanya milikku dan miliknya. Namun ketika kenyataan berkata yang semestinya, Dia mengijinkaku untuk jatuh cinta, tapi Dia tak membiarkanku merasakan cinta tersebut. Semuanya palsu.


Mengapa di balik setiap sesuatu yang indah selalu buruk untuk dirasakan. Seperti roti tawar yang berlapiskan selai kacang namun dibaliknya terdapat duri duri yang menempel pada roti tersebut. Kalau kau memakannya karena hanya tergiur dengan selai kacang yang meleleh tersebut, hati-hati saja... duri-duri dibaliknya akan menusuk bibirmu.


Saat ini, aku benar-benar takut untuk menghadapi hidup. Banyak sekali hal indah disana semua orang tersenyum kepadaku, lembuuut sekali... namun ketika aku menyentuh hati mereka semua pintu terbuka dengan lebar,  tiba-tiba sebuah pedang melasat menancap tepat di diriku, ketika aku melihat sebuah 'tayangan' yang sangat menyentuhku hingga membuatku merasa senang, aku meniru 'tayangan' tersebut agar aku juga bisa menyentuh pribadi lain juga, namun hanya celaan yang kudapati, ketika aku merasa bahwa inilah jalanku... menjadi seperti apa yang aku bayangkan selama ini, seketika jalan tersebut buntu.. Ketika seseorang datang kepadaku membagi hatinya untukku, membuatku jatuh cinta kepadanya, membuatku membayangkan indahnya saat aku dan dia duduk bersama di tepi pantai bermandikan cahaya senja, namun semua itu juga lenyap... 


Aku sangaaatt amaaatt lelah. Aku seperti dipermainkan. Ingin sekali aku melarikan diri dari dunia ini, lalu aku akan kembali lagi disaat aku sudah siap.


***


Rasanya sangat kecewa, tak ada harapan lagi untuk melanjutkan itu. Ketika kita memakan roti berlapis selai kacang dan berduri tersebut, kita tak dapat menolak. Itulah hidup, manis dan pahit akan menjadi satu. Hanya saja, kita harus melihatnya dari arah lain umtuk menghadapinya.


Ketika kau menyadari bahwa bibirmu tertusuk duri, cepatlah untuk melihat duri tersebut. Dan seketika kau akan berpikir, dibalik duri ini terdapat selai kacang yang sangat enak. Namun apa kau yakin akan memakan duri-duri itu juga? Perlahan... aku akan menyuruhmu untuk mencabut satu persatu duri yang menancap di roti tersebut, sampai benar benar bersih dari duri. Dan... inilah saatnya... Kau bisa memakan roti itu tanpa membuat bibirmu luka untuk yang kedua, ketiga, keempat, atau kesekian kalinya. 


Begitulah apa yang seharusnya aku lakukan, menghadapi yang yang ada di depanku. Melepas satu persatu dari hidupku, melewati bada-badai dan berusaha berjingkat menghindari pecahan kaca yang berserakan di tanah supaya kaca-kaca tersebut tidak menusuk telapak kakiku. Dan ketika aku diijinkan untuk menaiki sebuah kendaraan, namun kendaraan tersebut mengalami masalah di tengah jalan, aku yang harus membuat kendaraan tersebut dapan digunakan kembali. Ketika aku tidak bisa mengatasinya, Dia selalu sedia membantuku.


Sederhana bukan?


***


Practice what you have learned and received and heard and seen in me, and model your way of living on it, and the God of peace (of untroubled, undisturbed well-being) will be with you. (Philippians 4 : 9)



Dia memberitahuku, sembari menatap kupu-kupu yang sedang terbang mengepakkan sayapnya dengan lincah. "Ia berhasil. Berhasil melewati masa dimana ia menjadi ulat yang sangat menjijikkan, kini kau lihat? Ia begitu indah menari di hadapanmu"


Share:

0 Comment