Promises.

13 Mei 2017. Masa lalu kelam tak lunturkan semangat membara yang terkubur sangat dalam di tumpukan buku usang.



Tuhan izinkan saya lahir pada bulan Desember 1998, itu artinya saya lahir tujuh bulan sesudah kerusuhan 98 terjadi. Saya bersyukur karena keluarga saya berada di tempat yang aman saat itu, Papa, Mama, dan kakak laki-laki saya yang saat itu baru berumur 4 tahun, tidak berada di kota-kota yang menjadi peristiwa kerusuhan tersebut.

Kemarin malam, saya menemukan postingan di twitter dari sebuah akun ber-ava (avatar= profile picture) pita hitam. Pemilik akun tersebut bercerita tentang pengalamannya menjadi korban selamat dari kerusuhan 98, postingan tersebut direspon banyak sekali pengguna twitter yang juga ikut menceritakan betapa mengerikannya kejadian itu. Jika ingin membaca, anda bisa membaca beberapa cerita yang sudah dikumpulkan oleh pemilik akun ini di sini.

Hanya dengan membaca saja saya sudah membayangkan betapa mengerikannya kejadian saat itu. Tidak, saya tidak akan membuka luka lama bagi mereka yang menjadi korban. Namun, jika dilihat suasana sekarang ini yang terjadi di Indonesia, akankah hal tersebut akan terjadi lagi? 

Saya adalah seorang remaja yang masih berumur belasan tahun. Jujur, dari dulu saya tidak suka hal-hal yang berbau politik, bagi saya politik itu memusingkan. Belajar Pendidikan Kewarganegaraan di sekolah saja sudah membuat saya bosan, apalagi harus mengikuti berita-berita politik yang simpang-siur di televisi. 

Namun ajaibnya, begitu sosok ini muncul, jiwa-jiwa muda yang 'mati' seakan semua bangkit dari kematian. Sosok yang menjadi sorotan publik, bukan hanya dari dalam negeri, bahkan dari luar negeri, ya... siapa lagi kalau bukan Bapak yang kerap disapa Pak Ahok? Seseorang yang memiliki integritas tinggi, dan betapa luar biasanya Pak Ahok melayani rakyat dengan tulus. Yes, we're all know that. 

Saya cukup terkejut melihat teman-teman sekolah saya yang notabene mereka acuh-tak acuh dengan lingkungan, sekolah tidak serius, dan yang mereka lakukan hanyalah bersenang-senang, tak disangka mereka yang seperti itu pun ikut merasakan duka yang mendalam terhadap matinya keadilan di negeri ini. Mereka yang biasanya posting di instagram dengan hastag #postoftheday #OOTD #instadialy dll, mereka ikut terbenam dalam duka dengan memposting gambar garuda, pita hitam, atau bahkan foto Pak Ahok dengan hastag #RIPjustice #justiceforahok dll.

Siapa sangka kejadian ini justru seperti sebuah gebrakan besar. Hampir seluruh kota di Indonesia melakukan gerakan 1000 lilin, tidak hanya di Indonesia tapi di luar negeri, betapa hebatnya! Para muda-mudi, masyarakat yang tadinya acuh, seakan jiwa cinta Tanah Air mereka muncul begitu saja setelah peristiwa ini terjadi. Di setiap social media dipenuhi postingan-postingan memperjuangkan sebuah keadilan. Bahkan saya, remaja yang bermental hello kitty, berani menulis postingan tak berbobot ini di blog. Well, luar biasa....

Saya hanya takjub, takjub dengan cara kerja Tuhan. Dia memakai Pak Ahok dengan luar biasa, membangkitkan semangat-semangat membara yang sempat terpendam sangat dalam di tumpukan buku usang, sejarah yang kelam. Sekan-akan Dia mempersiapkan hal ini untuk sesuatu di masa depan Indonesia. Yap, saya tidak tahu apa yang akan terjadi nanti entah kejadian 98 terjadi lagi atau kejadian-kejadian lainnya, manusia tidak mengetahui, namun yang pasti Tuhan akan menunjukan kamuliaanNya, Dia sudah mempersiapkan segala sesuatunya dengan sangat rapi, termasuk kejadian sekarang ini, kan?

Satu hal yang harus diingat dan dilakukan, bersukacitalah! Apapun yang terjadi, bersukacitalah! Berduka boleh, sedih boleh, namun jangan berlarut-larut :). Problem is a problem if you believe it as a problem. Raditya Yaoloan berkata di postingan instagramnya, 
"In Christ, problem is a promise. Karena Tuhan mau menunjukan kemuliaanNya." 
Jadi, tidak perlu kita khawatir. Kita anak-anakNya sudah dimenangkan, kita bejalan bukan untuk kemenangan, tapi kita berjalan dari sebuah kemenangan, untuk melihat Dia memenuhi janji-janjiNya..

Saya percaya, kita dipersiapkan Tuhan juga untuk masa depan Indonesia. Melalui kejadian sekarang, seakan kepekaan kita dibukakan oleh Tuhan, supaya dari saat inilah... dasar kita diperkuat. Dasar apa? Iman, percaya. Percaya bahwa Dia-lah Sang Empunya dunia, apapun bisa diperbuatNya, dan kita hanyalah ciptaan yang sungguh amat terbatas. Tuhan seperti sedang membuat sebuah fondasi kuat dari kita semua, Dia membukakan mata banyak orang, membangun sebuah solidaritas yang selama ini hilang, untuk apa? Untuk Indonesia di masa depan.

Saya yakin, Tuhan akan berkarya melalui hidup kita untuk kesejahteraan bangsa ini. Kuncinya satu, kita mau dipakai olehNya.  :)

Tetaplah berdoa bagi bangsa ini.
Tuhan memberkati.


- Ambarawa, 13/05/17, 23.01 WIB.









Share:

0 Comment