Loved.
Sebelum saya menulis tulisan ini,
saya bingung harus menulis apa. Saya ingin sekali menulis, tapi otak rasanya
kering, walaupun hati terus berteraik-teriak ingin memuntahkan segala
sesuatunya yang ia rasakan.
Saya memandang layar dengan
secuil asa yang masih bertahan, setelah hari-hari yang jahat sangat menguras
hampir seluruh kapasitas yang ada.
Saya melihat kotak putih kecil
bergambar kuda di bagian bawah halaman tumblr.
Karena penasaran, saya mencoba mencari tau dengan cara membukanya. Terlihat
sebuah box, di box tersebut ada sebuah nama ( saya sendiri tidak tau itu nama
apa), namun yang ingin saya bahas adalah tulisan “0 days old”, seekor kuda yang berjalan ke sana kemari, dan sebuah
persegi panjang berwarna hitam di atasnya.
Ternyata itu adalah sebuah mini game, dimana kita harus membuat kuda
tersebut untuk tetap hidup dengan cara memberinya ‘kasih sayang’. Persegi
panjang tersebut adalah nyawanya, dengan perlahan warna hitam yang ada di dalam
persegi panjang tersebut akan berkurang,
yang harus kita lakukan adalah klick kuda tersebut dan gambar hati akan
bermunculan, dengan begitu warna hitamnya akan terus meningkat, setelah warna
hitamnya mencapai batas tulisan “0 days
old” akan berubah menjadi “1 days old”
yang artinya kita berhasil membuatnya bertahan hidup selama 1 hari.
Awalnya saya bingung, “ini game apa? Nggak jelas banget”, namun
setelahnya saya ingat seekor kuda yang ada di game Harvest Moon. Untuk yang pernah memainkannya pasti tak asing dengan
kuda berwarna coklat yang dititipkan oleh Barley
tersebut. Setiap kita mengelusnya atau menyikat tubuhnya, akan muncul hati berwarna
merah di atas kepalanya, kalau kita tidak pernah melakukan hal itu, kuda tersebut
akan diambil lagi oleh Barley.
-
Sore ini saya barusaja
menyelesaikan drama korea yang berjudul Goblin, beberapa episode sebelum
selesai seorang tokoh berkata, “di dunia ini tak ada yang menyayangiku” setelah
itu pun ia membunuh dirinya sendiri dengan cara meminum racun.
Kita tahu betapa berpengaruhnya
kasih di kehidupan kita. Singkatnya no
love=no life.
Saya adalah orang yang tidak banyak
bergaul dengan orang-orang, namun saya punya beberapa teman yang sangat saya
kenal. Salahsatu dari mereka memiliki kehidupan seperti ini; tidak pernah
bergaul, tidak pernah pergi dari rumah, kehidupannya hanya tidur, bangun,
sekolah, pulang, tidur, bangun, sekolah, pulang, begitu seterusnya.
Tidak adanya teman bahkan tidak
dekat dengan keluarga membuatnya menjadi merasa tidak dikasihi namun justru
sebaliknya; merasa dibenci. Saya sendiri tidak bisa menyalahkan dia yang
memilih hidup sebagai anti sosial, karena bagimana pun selalu ada alasan
dibaliknya. Bahkan dia pernah berkata, “jangan kaget, ya.. kalau aku bunuh diri
karena depresi”. Dia merasa bahwa tanpa cinta dia tidak bisa hidup.
Kami sempat membincangkan salah
satu teman kami yang ulang tahun ke-17nya dirayakan dengan begitu megah dan meriah,
bahkan seperti pesta pernikahan. Kami melihat kue ulang tahun yang dipajang
bertingkat tiga dengan beberapa lilin yang ditata dengan sangat indah.
Teman saya bertanya, “Kamu inget, nggak? Kapan terakhir kali kamu meniup sebuah lilin yang ada di atas kue?”
Saat itu saya terdiam, saya mengingat-ingat kapan terakhir kali saya melakukan hal tersebut. Ingatan saya melayang ke sebuah bangunan kuno, sebuah Taman Kanak-kanak, tepatnya 14 tahun yang lalu, berdiri di hadapan teman-teman kecil saya, dan di depan saya terdapat sebuah kue berwarna putih dengan lilin berbentuk angka 4.
Lalu saya menjawab, “Ternyata sudah lama sekali, terakhir kali saat aku masih TK..."
“Nah, orang-orang seperti kita kenapa selalu memiliki nasib seperti itu?” Ujarnya, “Membahagiakan sekali ketika sekali saja kita bisa menangis bahagia dengan kue tart di hadapan kita.”
“Kamu sendiri, kapan?”
“Aku? Entahlah.. tapi aku rasa itu sudah lama sekali. Itu saja aku harus berbagi kue dengan adikku.” Dia mulai menatap saya dengan serius, lalu ia melanjutkan, “Kamu pernah ada di ruangan gelap, tiba-tiba lampu nyala dan terlihat teman-temanmu sedang membawa sebuah kue dihiasi beberapa lilin menyala diatasnya, dan dengan gembira mereka menyanyikan lagu ulang tahun untukmu?”
Sambil menatap tatapannya yang tajam, dengan perlahan saya menggelengkan kepala.
“Ternyata kita sama, menyedihkan. Tidak ada seorang pun yang peduli atau mengasihi kita. Sampai-sampai mendapatkan hal seperti itu saja tidak pernah. Saya iri dengan yang lainnya...”
-
Di dalam hati, saya membenarkan hal tersebut. Saya memang
terlahir di dalam keluarga yang tidak memiliki budaya merayakan ulang tahun,
bahkan kami hampir tidak peduli dengan hari ulang tahun, bagi kami ucapan ‘selamat
ulang tahun’ saja sudah cukup. Namun, benar juga jika dirasa-rasa, kasihan
sekali.
Namun, saya menyadari, tidak perlu kita hidup dengan
menganggap bahwa diri kita tidak dikasihi. Jika tidak ada kasih di kehidupan
kita, kita sudah ‘mati’, lho... inget
kuda-kuda di atas?
Kadang kita terlalu fokus dengan apa yang membuat kita down.
Itu salah satu kelemahan saya juga, terlalu fokus dengan apa yang sebenarnya
tidak perlu dipikirkan. Karena sebenarnya banyak hal yang dapat kita lakukan,
bahkan hal kecil sekali pun.
“Fokuslah dengan apa yang bisa kamu perbuat, bukan apa yang
membuatmu tidak dapat berbuat apa pun..” Seseorang mengatakan seperti itu kepada
saya.
Lalu bagaimana kita bisa berhenti mengasihani diri sendiri?
Saya pun masih banyak bergumul tentang hal ini. Tapi yang selalu saya pegang adalah, Allah sangat mengasihi kita, we are LOVED.
Jadi, masih merasa tidak ada yang mengasihi?
Nah, daripada kita menunggu kasih-manusia itu datang kepada
kita, bagaimana jika kita saja yang mengasihi mereka?
Bukankah hidup itu untuk memberi, bukan untuk menerima?
Air merupakan hal yang sangat kita butuhkan. Jika keran air tidak pernah kita buka dalam waktu yang cukup lama, maka ada tiga hal yang akan terjadi. Pertama, air itu akan menjadi tidak sehat. Semakin lama air tidak dialirkan akan semakin tidak sehat. Kedua, dalam air akan timbul kuman-kuman yang dapat membahayakan manusia. Ketiga, air akan menjadi kotor, jika demikian bukannya mendatangkan kehidupan tetapi kematian. Hal yang sama akan terjadi dengan hidup kita, jika keran berkat kita tidak pernah kita buka.
Lalu dengan apa kita bisa memberi? Ya dengan kasih Tuhan.
Percayalah, adalah lebih bahagia jika memberi daripada
menerima, tidak baik jika terlalu fokus dengan diri sendiri.
Mari kita sama-sama berjuang dan saling mendoakan untuk ini :)
Tuhan mengasihi kita semua.
-Ambarawa, 20/04/17. 20:53
0 Comment