Fernweh.
27 November 2016. Malam itu tidak cerah, karena hujan turun terus-menerus Mata sudah merasakan berat ingin sekali dipejamkan, tapi rasanya sulit karena otak dihujani tombak terus menerus. Ah...
Rasanya senang ketika aku bisa kembali lagi ke duniaku yang telah sekian lama kain putihnya tidak kubuka. Jangankan kubuka, ku lihat saja juga tidak pernah. Aku bisa merasakan banyak debu disini, seperti barang kuno yang telah lama tidak dijamah, sudah muncul noda kecoklatan yang membuatnya terlihat semakin usang. Tapi bagiku, dunia ini tetap menyimpan banyak cerita di dalamnya, ceritaku dan cerita mereka juga, bahkan kalau boleh sedikit berlebihan, setengah dari jiwakupun juga masih di sini. Segitunya, ya...
Semenjak aku berada di SMA aku merasa kehilangan diriku sendiri. Aku pernah menuliskan tentang itu di postingan dua tahun yang lalu. Bagimana aku merasa bahwa semuanya berbeda dari apa yang aku bayangkan, aku merasa ditempatkan di tempat yang bertolak belakang denganku. Seperti itik yang berada di tengah-tengah kawanan anak ayam. Jika dibayangkan, aku merasa seperti itu. Mau tidak mau, aku harus berperilaku seperti anak ayam, kalau tidak aku akan tersingkirkan dari kawanan anak ayam itu.
Aku tahu, setiap manusia diciptakan masing-masing berbeda satu sama lain. dari fisik sampai karakter, tidak ada yang sama. Tapi ada satu yang bisa membuat manusia-yang berbeda tersebut menjadi satu, yaitu kebiasaan. Mengapa bisa terbentuk sebuah komunitas? Karena setiap anggotanya punya kebiasaan yang sama. Misalnya komunitas pecinta komik, setiap anggotanya pasti suka membaca komik. Bayangkan jika seseorang yang tidak suka membaca komik masuk ke dalam komunitas tersebut. Pilihannya ada tiga, pertama keluar dari komunitas itu, kedua ikut membaca komik walau terpaksa, ketiga diam saja walau pada akhirnya orang tersebut akan diasingkan oleh anggota lain. Itu yang aku rasakan.
Pada awalnya aku mencoba bagaimana 'cara mereka hidup', aku mengikuti cara mereka dengan sangat pelan-pelan supaya tidak hanyut terbawa arus. Setelah beradaptasi lumayan lama, akhirnya aku berhasil, namun ada yang hilang dari diriku. Sekian lama pula aku berusaha mencari apa yang hilang, seorang diri. Sampai pada akhirnya banyak peristiwa yang terjadi. Peristiwa di mana selama ini aku mengikuti mereka jalan lurus, lalu belok ke kiri, lewat jalanan terjal, belok kanan, lalu naik ke tanjakan, lalu jalan lurus lagi, namun kali ini mereka melompat ke jurang, apa aku juga harus ikut?
Disitulah aku merasa bahwa sudah waktunya aku kembali menemukan jalanku sendiri. Kalau aku boleh jujur, rasanya berat, aku seperti berjalan sendiri di tengah-tengah hutan, tidak ada orang lain yang menemani. Bagaimana jika aku takut? Ya aku tidak boleh takut, bagaimana jika aku lelah? Kalau lelah pasti iya, kalau nggak lelah berarti aku nggak 'kerja' dong, tapi lelahku bukan karena itu, lelahku sulit didefinisikan. Temanku pernah berkata, itu namanya survive; cara bagaimana kita bertahan hidup dalam keadaan apapun, dimana pun, dan kapan pun. Bertahan. satu kata, sangat simpel, namun sangat sulit dilakukan. Antara kau harus bertahan melawan arus atau justru membiarkan dirimu hanyut terbawa arus.
Dulu sewaktu aku masih terlibat dalam kepengurusan komisi remaja atau team buletin di gereja, kami para pengurus sering sekali sharing, saling mendoakan satu sama lain, saling menguatkan. Aku selalu menjadikan momen-momen tersebut sebagai momen dimana aku bisa mengisi 'tenaga'. Seperti fountain game Dota, yaitu daerah dalam markas di mana hero respawn setelah mati dan mendapatkan percepatan pemulihan tenaga. Hero akan mengisi tenaga untuk pergi ke luar melawan musuh, sama sepertiku, aku mengisi tenaga untuk bertahan pada 'arus'. Namun setelah lepas dari kepengurusan, momen tersebut tidak lagi kudapatkan, lagi-lagi aku merasa jauh dari Tuhan, dari situ pula aku mulai merasa bahwa aku benar-benar berjalan sendirian. Tidak ada lagi orang-orang yang selalu mengingatkan, memotivasi, atau sekedar memberi semangat. Orang-orang terdekat yang biasa menjadi 'tempat sampah' ku, yang selama ini kuhujani dengan banyak curcolan atau obrolan nggak penting atau apapun, yang pasti mereka membuatku merasa tak sendiri. Sebenarnya, mereka masih ada, kok.. tapi sudah tak lagi seperti dulu. Toh mereka juga punya hidup sendiri yang harus diperjuangkan, tak melulu harus mengurusi 'sampah-sampah' ku.
Beberapa hari yang lalu, aku bercerita kepada seorang teman tentang ini, dimana aku merasa aku berjalan sendiri. Tak disangka, dia juga merasakannya, dan mungkin tak hanya kami yang merasakan hal itu pada masa SMA. Lalu kenapa aku tak berjalan saja dengan dia? Rasanya sulit, karena kami sama-sama butuh sesuatu yang belum bisa kami dapatkan. Ada sesuatu yang hilang pada masing-masing diri kami.
-
Malam itu tidak cerah, karena hujan turun terus-menerus Mata sudah merasakan berat ingin sekali dipejamkan, tapi rasanya sulit karena otak dihujani tombak terus menerus. Tiba-tiba ada pesan Line masuk dari seseorang yang baru saja aku kenal lewat tumblr. Dia seorang jurnalis ternyata, sudah menulis buku dan juga semacam antologi puisi. Obrolan kami sangat ringan, hanya menanyakan 'sedang apa' dan 'kenapa kok belum tidur'. Jawaban kami tak lebih dari satu kalimat, bahkan hanya beberapa kata. Kami tidak bercerita panjang lebar, tidak. Kami hanya membicarakan apa yang kami rasakan, apa yang sedang berputar-putar diotak kami dengan bahasa yang sangat sederhana, bahasa khasnya sebagai penulis unggul dan bahasaku sebagai penulis abal. Namun aku bisa merasakan sesuatu, dia begitu rendah hati, begitu tenang dengan kata-katanya yang sederhana. Dari situ aku mulai menyadari sesuatu; apa yang aku butuhkan mulai tampak walau belum utuh. Bukan dari obrolan yang muluk-muluk, namun justru dari obrolan yang sangat ringan, hanya sepatah-dua patah kata saja, Tuhan berbicara melalui dia. Membuatku ingin menulis lagi.
Mulai malam itu banyak hal terjadi. Salah satunya saat aku mulai mengingat dimana pada suatu hari aku bertemu dengan seorang yang sangat aku sayangi, hanya sekedar bercerita tentang apa yang aku alami dan rasakan. Dengan sedikit cucuran air mata, aku bercerita betapa lelahnya aku selama ini, dengan sabar dia mendengarkan sembari menuntun kemana arah obrolan kami. Satu hal yang sangat ku ingat,
dia berkata, "Ada yang hilang dari kamu. Kamu tau apa itu?"
aku hanya diam tak tau harus berkata apa,
lalu dia melanjutkan, "Peduli mu hilang"
sempat terlupakan memang, namun setelah malam itu kata-kata tersebut terus terngiang. Hari demi hari, pelan-pelan Tuhan mulai berbicara lewat dia (yang ngakunya jadi senang menulis karena membaca tulisanku). Dia seperti terus memberiku kode supaya aku mulai menulis kembali :/ (sebenarnya aku nggak tau itu beneran kode atau bukan, tapi yang pasti aku merasa bahwa itu semacam kode keras, hmm.. ). Karena malas, aku abaikan saja. Namun, pada akhirnya Tuhan memberiku waktu untuk sejenak 'mampir' ke dunia yang telah lama aku tinggalkan.
Aku membuka catatan lamaku yang berisi list ide topik untuk menulis, ternyata lumayan banyak. Di situ tertulis saat aku bertemu seorang anak kecil yang sangat cerewet, membantu membawakan barang milik seorang ibu yang akan menyeberang, dan banyak lagi cerita yang tertulis di list tersebut. Rasa rinduku kepada blog ini mulai muncul, akhirnya aku mengambil laptop lalu membuka salah satu link yang tersimpan di bookmark browserku. Aku mulai membaca postingan-postingan lamaku yang terlalu menggelikan untuk ku baca ulang. Dimana caraku menulis, bahasa, semuanya, pelan-pelan terlihat adanya perubahan. "oh jadi dulu aku kayak gini, ya..." geli sendiri merasakannya. Setelah postingan-postingan itu selesai ku baca, aku pun membuka draft, terkejut. Sangat terkejut.
Lagi-lagi Tuhan berbicara. Ternyata, dulu... disaat aku galau, senang, lelah, atau sedang marah pun aku selalu menuliskannya di blog ini dan ku simpan di draft, walau hanya begitu, aku akan merasa lega. Hal sederhana memang, tapi saat itu aku mulai tersadar, jiwaku masih tertinggal disitu :'o ... oh tidak, aku mulai merasa sedih.
Buat yang belum tau, aku sempat berpindah ke tumblr, beberapa kali aku sudah menulis, kalau ada yang ingin sekedar melihat silahkan ke sini , lebih mudah memang, tak harus menggunakan PC untuk menulis sesuatu. Namun mengingat bahwa aku adalah tipe orang yang tidak bisa meninggalkan sesuatu yang sangat berarti (ini maksudnya seperti saat kau punya boneka kesayangan, dia sudah menemanimu selama bertahun-tahun, namun tiba-tiba kau menukar boneka itu dengan boneka yang lebih bagus, rasanya tetap tak rela kan?) sama seperti ketika aku meninggalkan blog ini :(.
Rencana Tuhan memang yang paling baik. Dari apa yang aku alami, aku diingatkan bahwa selama ini ternyata aku terlalu fokus pada diri sendiri, terlalu menuntut untuk dimengerti oleh orang lain, selalu merasa khawatir dengan apa yang akan terjadi, dan pesimis pada pelangi Tuhan yang sebenarnya telah Tuhan siapkan.
Well, akhirnya aku sadar...
Kekhawatiran terhadap sesuatu yang harus kita survive justru menjadikan kita terlalu fokus pada diri kita sendiri bukan pada apa yang dihadapi. Apalagi tipe pemikir sepertiku, sulit sekali ketika harus take it easy.
Akhirnya pula aku menemukan apa yang hilang, caraku.. caraku salah. Setiap orang pasti punya cara sendiri bagaimana ia menghadapi hidup, kan? Nah, iya.. caraku salah, aku kehilangan sesuatu (yang sebenarnya bertahun-tahun hilang). Ternyata ini yang hilang dan tanpa sadar selalu kurindukan, menulis dengan kepedulian. The little unsung hero dalam diriku hilang. Tanpa peduli, aku tidak bisa mendapatkan, tanpa peduli pula aku tidak menulis. Dan semua itu hilang disaat aku terbawa arus, dan aku mulai kebingungan seperti anak kecil yang hilang dari ibunya di tengah-tengah keramaian pasar, bingung, tak tau harus bagaimana, lupa diri, khawatir, rasanya ingin menangis, lalu berteriak sekencang-kencangnya.
Bumi berputar. Waktu berlalu. Hari berganti. Tanpa ada yang peduli aku belum bisa bangkit.Dunia tak berhenti, padahal aku hanya minta sedikit waktu, sampai bisa sembuh. Karena aku jatuh lagi, lagi, dan lagi.Aku berteriak minta kesempatan, minta dipercayai, tetapi dunia tetap saja berjalan.Sampai kapan aku seperti ini? Terjebak di sini dan menyia-nyiakan waktu. Sendiri menangis, sendiri kecewa. Hanya aku saja.Tidak, aku harus bisa pulih dari luka ini. Tanpa berharap orang lain menunggui dan menyemangati. Aku harus bisa bangkit sendiri. Ketika satu per satu dari mereka mulai bosan dan mengundurkan diri.Namun, ini terlalu sulit…Hingga kemudian Kau datang dan mengulurkan tangan.“Marilah kepada-Ku semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu”
Terima kasih buat kak AG yang sudah menemani ngobrol malam itu, :3
buat abang-abang tukang ceramah yang cuek banget, tapi selalu support aku dengan penuh kasih sayang :3 *uhh *apabanget
buat MC yang mungkin masih bergumul mencari sesuatu yang belum ia dapatkan, tetap semangat, bro.. jangan diem aja, ya :)And... big thanks to my lovely Father, Jesus Christ, thanks for Your unconditional Love, for everything :'3
Gambar: http://bit.ly/2gssOh8 , http://bit.ly/2fCzRGH
Puisi : http://bit.ly/2gxgtJO


2 Comment
Tak lepas dari rhema~~
ReplyDeleteKau tau itu hahaha..
Delete