Tidak Jelas?



Hari terasa panas walau langit tetap pada hatinya yang sedikit mendung. Suasana kota yang ceria, dipenuhi ornamen-ornamen kota,  menarik hati siapapun yang melihatnya. Hiasan-hiasan indah menggantung menghiasi setiap senti jalanan di kota tersebut. 





Terlihat di ujung pertigaan, di depan deretan toko-toko mainan, seorang  gadis kecil berjalan riang dengan tawanya yang lucu, tangan kanannya menggenggam boneka beruang berwarna coklat kesayangannya, tangan kanannya digenggam oleh tangan Ayahnya. Gadis kecil itu terlihat sangat gembira, terkadang berjalan-terkadang melompat, ia bersenandung kecil sembari tersenyum merasakan kebahagiaan yang meluap di hatinya.

"Kamu mau es krim?" Dengan sigap gadis gecil itu mengangguk cepat, mengingat ia sudah mulai lelah.

"Ayah! aku mau yang coklat, yang atasnya ada buah stroberinya!" Pria yang daanggilnya Ayah itu mengangguk sembari tersenyum melihat ucapan gadis kecilnya itu.

Mereka berdua menuju ke  kedai es krim yang berada di seberang jalan. Walau tak banyak pengunjung, kedai itu terlihat manis untuk sekadar disinggahi demi menyejukkan tenggorokan. 

Seorang pelayan yang ramah menghampiri mereka lalu menunjukan sebuah meja coklat dengan dua kursi kecil yang lucu. Mereka pun menuju meja tersebut lalu menyampaikan pesanan mereka kepada si pelayan. Setelah menunggu beberapa menit, dua mangkuk es krim coklat pesanan mereka tiba. 

Satu sendok es krim masuk ke mulut mungil gadis itu. "Hmmm... Ayah, es krimnya enak banget!" Ucapnya di sertai sendokan es krim yang kedua. Ia sangat menikmati es krim tersebut, sesekali Ayahnya dengan usil diam-diam mencuri sejumput es krim coklat di hadapan gadis kecilnya. Tawa riang terdengar nyaring diantara mereka ketika Ayahnya kepergok sedang menjumput es krim itu, membuat pengunjung lain tersenyum saat melihat keakraban Ayah dan anak yang sedang bergurau tersebut.

Sekitar 30 menit bergumul dengan semangkuk es krim coklat bertaburkan buah stroberi, gadis tersebut meletakkan sendok es krimnya di atas mangkuk. Ia menatap Ayahnya dengan senyuman manis, "Ayah... Besok, kalau aku sudah besar, aku mau jadi menujal es krim di seluruh dunia!"

Ayahnya mengerutkan dahi, "Oh ya? Wah keren! Kalau di seluruh dunia, berarti Ayah bisa makan es krim kamu di Amerika, dong?"

Gadis tersebut semakin berbinar saat mendengar Ayahnya sangat antusias. Sejenak ia diam, seperti mengingat-ingat sesuatu, tiba-tiba dengan gesit ia mengambil sesuatu dari tasnya. "Ayah! Lihat! Bukan hanya di Amerika!" Serunya sembari memperlihatkan brosur bergambar peta dunia yang ia dapat dari toko buku depan kedai es krim. Di tangannya menggenggam spidol berwarna merah, "Bukan hanya Amerika! Aku akan jualan es krim di sini juga!" Ia melingkari salah satu bagian peta bertuliskan Benua Afrika. "Aku dengar, di Afrika itu sangat panas, jadi aku harus kesana untuk mwenjual es krim, supaya perut mereka tidak kepanasana! Hehe..."  

"Iya, ayah setuju! Tapi, kalau mereka tidak punya uang untuk membeli eskrimu?" 

Gadis itu diam. Otaknya berputar mencari sesuatu untuk menjawab pertanyaan Ayahnya. Masa mereka tidak punya uang? Kalimat tersebut terngiang-ngiang  di kepalanya. Ia seperti kehabisan kata-kata, matanya berkedip-kedip salah tingkah menatap ayahnya yang sedang tersenyum geli.

"Ayah, masa aku harus memberi mereka dengan gratis?"

Ayahnya tersenyum, "Besok kalau kamu sudah besar, kamu akan tau mengapa kamu harus memberinya dengan gratis! Yuk, pulang... Ibu pasti sudah menunggu kita di rumah!"


***


Bayang-bayang tersebut terus berputar-putar mengisi benaknya. Clara mengingat bagaimana ia saat kecil dengan sangat gembira menceritakan impiannya kepada Ayahnya untuk menjual es krim di seluruh dunia. Ia tertawa geli mengingat itu, betapa bersemangatnya ia dulu, sangat polos. 

Ia sekarang sudah beranjak dewasa, sudah mengalami sebagian pahitnya hidup. Sudah melalui beberapa proses kedewasaan yang membuatnya semakin bertumbuh menjadi seorang wanita dewasa. Ia mulai tau segalanya, gemar berandai-andai dan bermimpi, persis seperti dirinya saat kecil. Ia bahkan sudah tau jawaban mengapa kita harus memberi orang lain dengan gratis. Hatinya yang lembut itu lah yang bisa menjawabnya, Clara ingin menjadi berkat untuk orang sekitarnya, seperti Tuhan yang selalu memberinya berkat.

"Anak-anak, yang sudah selesai bisa berikan ke saya untuk di koreksi." Clara dengan sigap membawa kertas kuning bertuliskan MY DREAM tersebut kepada gurunya.

"Saya ingin menjadi berkat untuk orang-orang di sekitar saya. Saya ingin jalan-jalan keliling dunia," wanita berprofesi guru itu mengerutkan dahi saat membacanya, lalu ia melanjutkan, "5 tahun kedepan, saya akan bersekolah di fakultas yang sudah Tuhan rencanakan untuk saya dan 10 tahun lagi saya sudah menjadi seseorang yang sukses." Ia menghela nafas, "tujuanmu terlalu tidak jelas."

DEGG. 

Clara terdiam.


Terasa sesuatu menusuk batinnya, membuatnya tertegun. Masih tak percaya apa yang telah dikatakan gurunya tadi. Seperti menara yang sudah ia bangun, rubuh seketika. Begitulah ucapan gurunya tadi terus terngiang di telinganya, membuatnya lemas hampir tak bisa bernafas lega. 

Impianku terlalu tidak jelas? Aku ingin menjadi berkat untuk orang lain, apa  itu tidak jelas? Aku ingin keliling dunia, apa itu tidak jelas? Aku ingin patuh kepada kehendak Tuhan, itu juga tidak jelas? Semuanya tidak jelas? Apa aku terlalu kekanak-kanakan? 










Share:

0 Comment