Karena Waktu


16 Juni 2014. Sudah dua hari, hampir 24 jam ku habiskan di ruangan ukuran 2x2m ini. Mengingat tak ada satupun yang menginginkanku untuk keluar, maka dari itu aku tak bergeming sembari membebaskan diri, terbang di duniaku sendiri.




 Sudah saatnya aku tau, ini akhir kebersamaan namun awal dari dunia semi-sebenarnya.


Keluar rumah hanya membuatmu semakin tertutup, aku tau itulah dirimu. Kau pernah berkata, "Apa yang dilihat oleh mata, akan jatuh di hati. Tepat di hati. Namun, seketika itu berakhir meninggalkan sepercik luka, karena itu tidak murni.."

Persisnya, kau sakit hati. Melihatnya bahagia tidak bersamamu memang menyakitkan, namun kau membuatnya nampak seperti drama dengan kisah yang kau sendiri belum tau endingnya. Aku sadar, segala cara kau lakukan untuk pelarian. Berusaha menutupi memang sulit, apalagi dengan tipe sepertimu, sensitif. Namun, kau tau sendiri sasaranmu tidak berperasaan?

Memikirkan itu seharian memang bukan apa yang seharusnya kau kerjakan. Semua yang kau dengar dan kau lihat di hari-hari sebelumnya  mungkin memang membuatmu jengah, berusaha tenang, tersenyum damai walau hatimu berkecamuk. Ya, ku akui kau pun tidak bisa membohongi dirimu sendiri. Jadi, itu seperti tidak salah.

Kau ingin orang melihatmu sebagai sosok tegar dengan prinsip yang hidup, tapi tak bisa dipungkuri bila sasaranmu seakan tertutup kabut sehingga tidak jelas adanya. Mungkin kau coba percaya dia dengan apa yang dikatakannya siang itu. Cukup membuatmu sedikit yakin, tapi itu sangat ambigu antara 'nanti atau selamanya'. Lalu, inikah yang membuatmu menarik diri?

Ia merupakan sebongkah energi yang dikirim Tuhan untuk membuatmu semangat melakukan apapun. Namun, kau merasa sekarang ia hilang. Entah karena kau membiarkannya, atau dirinya sendiri yang memilih untuk menghilang. Dia menarik diri juga, sebagai balasan; aku akan membuatmu menarik diri sejauh mungkin sebelum kau dan dia berada di posisi yang sama. Lebih baik kau berlari sejauh mungkin daripada dirimu sendiri tersayati, bukan?

Ini hanya masalah waktu.
Semua jelas adanya. Namun, kau terlalu kawatir oleh berjalannya waktu. Merasa siang itu sudah kadaluarsa, dan kau menuntut yang baru untuk membuatmu yakin. Kau memang hanya butuh pengakuan. Aku tau itu, kau tak meminta lebih dari sebuah pengakuan, karena semuanya berhubungan dengan waktu.

 "Kadang-kadang langit bisa kelihatan seperti lembar hitam yang kosong. Padahal sebenarnya tidak. Bintang kamu  tetap ada di sana. Bumi hanya sedang berputar." -Perahu Kertas


Share:

0 Comment