'Spiral' terdalam


23. Mei. 2014. Aku sangat mengharapkan malam ini hujan. Aku berharap butiran air itu turun dari langit mendinginkan perasaanku yang tengah mendidih.






Dari awal, kau sudah berharap hari ini akan terjadi sesuatu, yang sudah kau tunggu dari beberapa waktu yang lalu. Sesuatu yang menyenangkan. Tapi nihil, tidak seperti apa yang kau bayangkan saat membuka mata di pagi hari tadi.

Seolah-olah, Tuhan tak menghendaki itu terjadi. Iya, Tuhan memberikan hari yang pahit untukmu. Dan kau percaya, bahwa hari itu-Tuhanlah yang menuliskan. Itu bodoh.

Kau ingat saat kau membuka mata, hatimu tak lagi gembira. Kau sendiri yang menginginkannya; selalu cemas dengan apa yang kau hadapi.

Kau ingat saat kau menengok hamparan langit biru itu melalu jendela kamarmu. Kau sudah berfikir; 'putih' itu akan menjadi 'abu-abu'. Kau sungguh tak mempercayai pancaran sinar oranye yang menyilaukan itu. Kau sendiri yang terus berdiam diri di atas tempat tidurmu menanggapi sosok semu yang berdiam di dalammu.

Perasaan itu pun terjadi. Kau tak sedang di neraka! Ingat itu! Kau pun belum pernah merasakan sengatan api yang berkibar dengan liar itu, kan? Lalu apa maumu? Ingin melakukan sesuatu yang hangat tetapi kau terus membuatnya beku.

Tidak, tidak. Bukan karena orang si*lan yang terus saja berdiam diri di hatimu itu. Lalu apa maumu? Kau selalu saja membuat masalah dengan dirimu sendiri. Menciptakan 'cerita'mu sendiri, membuat khayalanmu sendiri, dan kau tak peduli dengan apa yang seharusnya terjadi dalam harimu.

Aku tau kau memang peka. Tak mudah- memang-untuk mengatur perasaanmu sedemikian rupa, seperti apa yang mereka inginkan kepadamu. Masalahnya, kau yang memulai, kau selalu mempersulit diri.

Walau aku tau itu tak berdampak dengan mereka yang ada di didekatmu, yang mengenalmu, tapi apalah bagimu rasa sakit itu? Aku tau kau memiliki banyak rasa terselubung, satu persatu rasa itu polos, bersih, tak berkarakter. Bentuknya seperti spiral, yang terdalam adalah rasa yang menjadi tumpuan harimu. Dia kecil, bernyawa-nyawamu juga, dan kau tega membuatnya kelelahan menopang semua beban yang kau buang kepadanya.

Ada saatnya memang, ia mengadu kepada sang otak, seolah-olah ia tak terima kau perlakukan seperti itu, ia terus saja memperingatkanmu. Kau hanya diam? Apa? Kau tak melakukan apapun? Dia, kau tak merasa kasihan terhadapnya-kepada dirimu? Bodoh.

Itu sebabnya kau menjadi orang yang moody. Selau saja membela dirimu sendiri, "itu sudah melekat di tubuhku-jiwaku"..

Cukup, kau sudah berusaha keras membantu bebanmu itu pergi menjauh dari 'si paling dalam'. Kau sendiri yang salah, kau yang menginginkan ini. Aku tau ini sulit, tapi kau bisa. Bukan Tuhan yang membuat harimu pahit. Tetapi dengan; bagaimana kau memandang harimu?

Aku percaya kau bisa. Ini porsimu, cobalah untuk melawan'nya'. Walau semuanya itu tak tampak dari luar; dari apa yang orang lihat terhadapmu, tapi itu merupakan perang bagimu, bagi setiap rasa yang ada pada jiwamu, sehingga kau merasa seperti penuh.



Hingga akhirnya, aku benar-benar menginginkan hujan. Air yang selalu membuatku nyaman dengan bunyi sentuhannya dengan tanah. Selalu membuat hatiku seperti sunyi, sangat menarik untuk berlama-lama tinggal didalamnya. Iya, aku tau semuanya dariMu, Tuhan.





Share:

0 Comment