Je
28 Juni 2015. Je, gadis remaja yang tak luar biasa dan dia baru saja meninggalkan kota asalnya.
Setelah Je menetap di kota dan sekolah yang baru, Je diajak teman sekelasnya pergi ke
gereja untuk mengikuti ibadah remaja. Ya... namanya juga orang baru, dia
sedikit nggak ngerti ‘rutinitas’ yang dilakukan gereja tersebut, namun minggu
demi minggu dia mulai paham. Sekitar 2 bulan kemudian, El, salah satu teman
gerejanya yang sangat aktif pelayanan, ngajakin Je untuk turut serta dalam
pelayanan. Je pun mau karena dia sendiri menganggap dia sudah merasa ‘dekat’
dengan gereja ini. Awalnya, Je Cuma kebagian pelayanan jadi usher atau pengedar
kantong persembahan, namun teman-temannya tau kalau Je suka banget bantuin
orang dan ucapan Je saat berdoa itu kata-katanya terdengar sangat positif,
jadilah Je ikut ambil bagian dalam tim pendoa. Biasanya sekitar seminggu sekali Je dan tim pendoa datang ke teman-teman remaja yang jarang bahkan nggak lagi
hadir dalam persekutuan, dia juga mengunjungi teman-teman yang sedang sakit untuk
didoakan.
Saat
natal tiba, seperti biasa gereja-gereja bersiap mengadakan acara untuk
memperingati kelahiran Sang Juru Jelamat. Kali ini, dia nggak dapet bagian
untuk melayani padahal ia sangat rindu melayani, dia merasa kesal. Saat tim
Vocal Group tampil di panggung, Je hanya diam, dari dulu Je ingin sekali ikut
Vocal Group tapi suara Je pas-pasan banget, bahkan nggak terdeteksi suaranya alto
atau sopran, pada waktu puji-pujian dia sempat melirik pemusik di sebelah
panggung. Keren sekali, pikir Je. Dia ingin sekali ada di salah satu posisi
pemusik tersebut, bukan, bukan yang megangin kabel, tapi yang maen piano atau
gitar, tapi dia sama sekali buta musik, not balok aja dibilang tauge berjajar.
Nggak Cuma itu, Je sempat berpikir bahwa ia juga ingin jadi WL, tapi buru-buru Je mengurungkan niatnya, suaranya pas-pas an dan wajahnya jauh dari kata cantik,
mana mungkin ada jemaat yang betah nonton WL buruk rupa di depan sana. Je jadi
nggak pede, Je nggak bisa nyanyi, buta nada, gaptek, dan yang paling dia
khawatirkan; nggak bisa tampil di depan orang banyak.
Lama-lama,
ia iri terhadap teman-temannya yang jago ini-itu dan sangat multitalenta. Coba
lihat Je, dia nggak bisa apa-apa selain berdoa. Ngenes, ya. Ia juga terkadang
merasa nothing saat berkumpul sama
teman-teman gerejanya, ia juga ingin tampil dan ingin dikenal sama orang
banyak. Akhirnya, pelayanan Je makin nggak teratur karena dia ngerasa minder,
karena nggak banyak yang bisa dia lakuin buat pelayanan.
*******
Pernah nggak sih kita ngalamin kejadian mirip sama Je, kita
iri sama temen karena dia lebih bisa dan lebih banyak pelayanan daripada kita,
dan pastinya mereka lebih deket sama Tuhan kan?
Well well.. kita pelayanan buat siapa sih? Buat Tuhan kan? Kalau
masalah kita bisa apa buat melayani Tuhan, kita bisa ngelakuin apapun kok! Apapun! Asal itu positif. Gue baru sadar
akhir akhir ini walaupun udah tau dari dulu banget kalau pelayanan nggak harus
di gereja, pelayanan nggak harus jadi WL, maen musik, operator LCD, operator sound
system, pendoa, atau guru sekolah minggu
mungkin. Hal positif apapun yang lu bisa, pakailah itu untuk memuliakan nama
Tuhan. Sempet miris sama kasusnya Je yang bilang kalo dia minder, dia pengen
dikenal sama banyak orang karena dia
rajin pelayanan dan bisa melayani di berbagai bidang.
Mau milih jadi orang yang hebat, atau jadi
orang yang membuat orang lain menjadi
hebat?
Kalau memang disuruh milih, gue nggak milih, gue lebih mau
jadi orang yang hebat karena bisa bikin orang lain hebat. Kalau dipaksa buat
milih satu, ya.... pastinya pilih jadi orang yang bisa bikin orang lain hebat.
Jangan jadi orang yang pengen dipandang hebat, kayak gini: “Woo.. hebat lu nge
WL keren banget!” atau “Suara lu bagus banget bro!” atau “Keren dah, lu emang
canggih ya soal-soal komputer!” Jangan pernah.
Tergantung motivasi kita melayani untuk apa? Tujuan pelayanan bukan sekedar bagaimana agar
jemaat diberkati, bukan sebatas mendoakan mereka supaya berhasil, mengalami
mujizat atau sembuh, dan bukan sekedar membawa orang ke gereja atau menjadikan
mereka sebagai pelayan Tuhan, apalagi untuk tempat ngeksis dan nampang, tapi
justru kita harus bisa memastikan, bahwa orang yang kita layani itu bisa dimenangkan
bagi Kristus dan hati serta karakternya berubah, cara pikirnya berubah, cara
hidupnya berubah dan gaya hidupnya juga berubah menjadi manusia rohani seperti
yang Tuhan mau.
So gaes, masih
mau pengen ‘dilihat’ orang? Walaupun di balik layar, it’s okay selama kita
bisa jadi berkat buat orang lain biar mereka juga bisa jadi berkat buat orang
lain. Tuhan nggak ngelihat berapa
banyak kita pelayanan, tapi lihat seberapa
besar ketulusan hati kita buat Dia. Walaupun kita cuma bisa satu hal, asal kita
bener-bener tulus, Tuhan ngasih kesempatan deh buat kita bisa belajar hal lain yang sebelumnya nggak kita bisa (Inget perumpamaan tentang talenta kan?)
Seberapa
banyak kita pelayanan, nggak menjamin kita deket sama Tuhan. Now, let us walk
on our own way,
Ulangan 31:8, “Sebab TUHAN, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati."
Maksud gue, nggak
usah iri tentang hubungan orang lain dengan Tuhan, yang penting diri kita
sendiri. Semakin kita Tulus, semakin kita deket sama Bapa kita ini. Tuhan nggak
pergi kok, Tuhan sendiri yang bilang kalau dia nggak ninggalin kita. Kita semua
anakNya nggak perlu cemburu, ini Cuma tentang kita mau apa enggak deket sama Dia.
Kalo mau, ya lakukan!
Berdoa buat 'Je Je' lain di luar sana, Tuhan sayang mereka, Tuhan nggak pengen semua 'Je' di dunia minder, manusia memang punya kekurangan, tapi kita punya anugerah dariNya, pakai anugerah yang udah Tuhan kasih dengan tulus, Tuhan tau, selalu tau, dan inget Dia nggak pilih kasih, juts do it with all your heart.
![]() |
| http://iwilltrustinyou.org |
He’s there for us all and intends to be found by anyone who abandons everything to find him.


0 Comment