Biru itu... Biru Langit



Sebelumnya... HAIII!! :D saya dateng lagi dengan membawa sebuah cerpen absurd karya saya.. :3
True story atau bukan, itu nggak penting...
Yang penting.... silahkan bacaaaaaa ^^






Dingin. Sangat dingin. Kakiku terus melangkah, menapaki tanah berair yang tak kian kering ini. Suasana sepi, hingga bunyi tetesan air yang jatuh dengan bebasnya di kubangan air terdengar sangat jelas. Kabut tipis menyentuh kulit wajahku yang tak terbalut apapun. Sore itu matahari tak nampak. Entah sudah tenggelam atau memang tertutup oleh awan tebal. Hanya sinar tipis yang turun dari langit hingga memantulkan cahayanya di kubangan-kubangan air.

Aku mendengus pelan. Hujan telah usai, tetapi kabut masih menari-nari di hadapanku. “Berapa langkah lagi aku akan sampai dirumah?” batinku, sembari memainkan sepatuku pada kubangan-kubangan air hingga membuat air itu sukses membuat sepatuku basah.

Sesampainya dirumah, aku melepas sepatu basahku, menaruhnya di rak sepatu berharap akan segera mengering, walau itu mustahil. Aku benci ini. Bukan, bukan benci sepatuku basah. Aku benci ketika aku teringat semua kejadian buruk di sekolahku. Jujur saja, ini yang membuatku tak bisa fokus dengan semua kegiatanku dirumah.

Aku membaringkan tubuhku di atas kasur beralaskan kain sprai bermotif bunga tulip, bunga kesukaanku. Mengingat semua hal di sekolah membuatku menghela nafas pajang hingga poni-poni tipis yang lolos dari jepitan rambutku berterbangan dengan bebas.  Sambil memejamkan mataku, aku memutar lagi bayang-bayang kejadian itu.

Ini bukanlah cerita dongeng fabel sebelum tidur, atau cerita detektif seperti Sherlock Holmes, atau mungkin cerita cinta seperti Romeo & Juliet, tetapi cerita dimana sebuah kasih dari seorang sahabat kepada sahabatnya yang membuat hatinya tidak bisa tenang.

***

“Mia, ayo buruan! Itu mobilnya udah mau jalan..” Niel menarik tangan Mia yang sedang sibuk meminum air putih dari botol minumnya. Mia tersedak hingga membuatnya batuk-batuk sambil mengomel tak jelas kepada Niel.

"Aihh... Niel!! Kamu, nih! Orang lagi minum kok tangannya di tarik, untung aja aku nggak kenapa-kenapa. Coba kalo aku mati kan nggak etis banget, masa ntar di koran ditulisnya ‘PELAJAR SMP, DITARIK TANGANNYA, KESELEK, MATI’ kan nggak banget gituhhh... syukur-syukur kalo yang narik itu pangeran ganteng, nah ini yang narik kamu, cowok gila!” Omel Mia ketika mereka berhasil masuk ke dalam angkot yang super sempit itu.

Niel mengerutkan dahinya, tanda ia bingung terhadap perilaku temannya yang nerocos tidak karuan itu. “Haha.. Ya nggak apa-apa mati, paling juga si Abel bakalan nangis kejer liat kamu mati keselek..” Balas Niel tak kalah nusuk-nya. Dia tersenyum penuh kemenangan melihat Mia hanya diam tersipu malu sambil mengerucutkan bibirnya setelah mendengar kata ‘Abel’.

***

Abel? Ya... orang itulah yang membuatku selalu tak bisa fokus. Aku membuka mataku, mellirik ke arah jam kuno yang berdiri dengan gagahnya di atas meja belajarku. Menyadari hari sudah semakin gelap, aku pun beranjak dari benda lentur bermotif bunga tulip itu. Berjalan gontai menuju kamar mandi, membasahi wajahku dengan air dingin, hingga membuatku terasa segar kembali.

Aku menatap ke luar jendela, hujan turun lagi walau tak sederas tadi. Langit semakin gelap, aku melangkahkan kakiku ke ruang tamu. Melihat nenekku yang sedang duduk sambil melipat cucian baju yang sudah kering, aku pun duduk di sebelahnya bermaksud untuk membantu.

“Mau bantu, nih?” Tanya nenekku yang ku balas hanya dengan anggukkan. “Yaudah sini. Ngelipetnya yang rapi, loh..”

Sambil melipat baju-baju kering itu, pikiranku kembali melayang ke kejadian di sekolah. Mengingat bagaimana aku bersikap jahat kepada sahabatku sendiri. Ya, jahat. Menurutku, sih.

***

Kini telah terlihat desa penghasil batik tulis yang sangat dinantikan oleh teman-teman Mia, dan tidak oleh Mia sendiri. Mia benci tempat panas, dan di desa ini sangat panas, mungkin karena sinar matahari yang kian terik.

“Eh, Mia.. ngelamun aja kamu? Yuk jalan, langsung ngerjain tugasnya biar cepet selesai.” Ajak Gina, teman satu kelompoknya. Mia bisa melihat kegembiraan di wajah Gina saat tiba di tempat ini. Terlihat begitu semangat, tak seperti Mia yang hanya memasang muka datar saat sampai di tempat ini.

Mia telah berpisah dengan temannya tadi, Niel. Entah kemanya Niel pergi, yang pasti Mia tak melihatnya lagi. Ia berjalan melihat-lihat suasana di desa itu. ‘Sepi juga, ya..’ batin Mia ketika merasakan bahwa masyarakat disini sangat jarang terlihat. Tiba-tiba matanya menangkap sebuah objek yang sebenarnya sangat ia nantikan, Abel. Dari pagi Mia tidak berbicara dengan Abel, hanya say ‘hi’ saja yang Mia lakukan saat bertemu Abel. Padahal Abel ini sahabat Mia, lebih tepatnya teman dekat Mia.

Entah mengapa Mia tak ada keinginan untuk menghampiri dan mengobrol sejenak dengan Abel. Mia memalingkan pandangannya ke arah lain saat Abel menatap Mia. Mungkin kau bingung, Mia dan Abel ini ada apa, sihKok sepertinya sedang ada masalah.

Acara di desa penghasil batik ini terus berlangsung dengan diiringi oleh teriknya siang hari. Akhirnya, acara inti pun dimulai, yaitu membuat batik. Semua kelompok mendatangin tempat yang sudah di sediakan. Sejenak, Mia memandang Abel. Tubuhnya yang tinggi dan wajah orientalnya itu sangat membedakan dirinya dengan orang-orang disekelilingnya. Mia bisa membaca raut wajah Abel yang sedang melamun, tidak berekspresi tapi ada suatu kesedihan diwajahnya, Mia sendiri tidak yakin. Ada keinginan untuk menghampiri Abel, tapi Mia mengurungkan niatnya itu setelah Abel tersadar akan sepasang mata Mia yang memandangnya terus-menerus, bukan lagi sejenak.

“Cieee.. Mia! Batiknya unyu banget..” Ucap Lika, salah satu teman sekelasnya, membuyarkan lamunan Mia, saat melihat batik absurd karya Mia. Mia tahu, ucapan Lika tadi bukanlah sebuah pujian yang bermakna pujian, tapi pujian yang bermakna ejekan. Suasana hati Mia semakin suntuk saja, cuaca yang panas ditambah lagi dengan perilaku teman-temannya yang sangat mengganggu Mia.

Lagi-lagi Mia teringat oleh temannya, Abel. Matanya bergerak mencari sesosok laki-laki tinggi berwajah oriental itu. ‘Dia kemana sih?’ gurau Mia dalam hati sembari melayangkan pandangan ke segala arah demi menemukan sosok itu.

***

“Heh! Kok kamu malah ngelamun gitu, sih? Cuciannya udah dilipet semua. Sekarang kamu mandi, gih.. Belom mandi, kan?” Ucap nenekku membuyarkan lamunan panjangku tadi. Ya Tuhan, berapa lama aku melamun?

Dengan langkah yang lagi-lagi gontai, aku mengambil handuk tebal berwarna coklat milikku lalu masuk ke kamar mandi. Aku memutarkan mp3 di handphoneku. Sangat nyaman, aku merasakan air hangat yang membasuh tubuhku.

Teringat lagi kejadian di sekolahku. Aku memejamkan mata sambil mencari-cari lanjutan dari lamunanku di ruang tamu tadi. Sampai akhirnya ‘gluduugghh.. gluduugghh’ suara guntur itu membuyarkan lamunanku. Aku makin yakin, hujan di hari ini sangat awet hingga esok, mungkin. Mendengar alunan lembut dari lagu yang selalu ku dengarkan setiap hari, Only Hope nya Mandy Moore. Seakan-akan lagu itu telah menghipnotisku menjadi sangat tergila-gla padanya. Lagu yang lembut, dengan iringan piano dan biola, membuatku semakin betah merasakan hangatnya air yang tumpah di tubuhku.

Barulah aku tersadar, air yang kupakai untuk mandi telah habis. Segera ku keringkan tubuhku dengan handuk coklat yang tadi telah ku siapkan di belakang pintu, dan membalut handuk coklat itu ke tubuhku. Sambil melangkahkan kakiku ke dalam kamar, samar-samar aku melihat wajah Abel dipikiranku. Aku tahu, itu tidak nyata tapi aku terus memandang wajah itu. Ada keinginan untuk menyapanya dan tersenyum kepadanya, tapi lagi-lagi kuurungkan niatku, karena aku tak ingin dibilang gila, setelah tersenyum dengan bayangan.

Selesai aku memakai baju, Aku pun menghadap sebuah kaca merah muda yang menggantung di dinding kamarku. Aku melihat wajahku sendiri. ‘Wajah-wajah sepertimu tak pantas jahat kepada orang lain, tapi kenapa kau lakukan itu?’ lirihku pelan berbicara dengan bayanganku di kaca. Well, saat ini aku bisa dibilang gila. Tiba-tiba mataku melihat sesuatu di mata bayanganku di kaca. Lanjutan lamunanku, ya...

***

Mia sedikit heran melihat teman-temannya yang sangat bersemangat di kegiatan yang menurut Mia sangat membosankan.

“Eh, Mia... yuk lanjutin tugasnya..” Ajak Gina sembari menarik tangan Mia. Ia membawa Mia ke suatu tempat. Tempat yang tak kalah panasnya. Lapangan!

“Ah, Gina... panas banget disini. Dibawah aja yuk, yang gak kena matahari.”

“Nggak mau, disini aja.. Tuh temen-temen juga pada disini kok.” Ucapnya terus memaksa.

“Tapi panas banget, Gin! Daun-daun aja pada kering begitu, ntar aku malah...” kata-kata Mia tiba-tiba terputus setelah melihat sosok yang dicarinya sedari tadi. “Yaudah, disini aja nggak apa-apa.”  Lanjut Mia setelah melihat Abel beserta kedua temannya, Niel dan Juan, yang juga teman baik Mia duduk di salah satu bangunan pinggir lapangan itu.

“Wah, pasti karna ada Abel kan disitu, trus kamunya mau.. Hahaha..” Ejek Gina melihat mata Mia yang dengan jelas menatap ke arah Abel.

“Ihh.. enggak.. Siapa juga yang mau karna ada Abel, yang ada juga aku takut kamunya ngamuk soalnya aku nggk patuh sama kamu.. Hahaha..” Balas Mia tak mau kalah dengan ejekkan Gina. Terpaksa Mia berbohong, demi menjaga dirinya supaya terhindar dari gosip-gosip yang tidak benar.

Akhirnya, acara telah usai. Mia sangat kegirangan untuk meninggalkan tempat panas ini. Di sesi penutupan, Mia terus-menerus mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Ya, dia mencari Abel.

Sesampainya di sekolah, tanpa babibu lagi, Mia masuk ke ruang kelas kesayangannya, ruang IPA. Menurut Mia, ruang ini sangat nyaman, sejuk dan adem. Dia membaringkan tubuhnya di lantai. ‘Aahhhh... ademmm... enak banget nihhh....’ gurau Mia pelan sambil memejamkan matanya.

Sejenak dia mengingat Abel. ‘Ah, palingan juga dia lagi sibuk..’ batin Mia dengan terus memejamkan mata merasakan kenikmatan lantai di ruang IPA itu.

***

‘Tok.. tok.. tok..’

Suara itu mengagetkanku. Membuatku hampir saja terkena serangan jantung. Dengan berat hati aku membuka pintu kamarku.

“Kamu nggak makan? Tadi Mama udah beliin kamu gado-gado. Dimakan, ya.. Ntar lagi ada persekutuan kaum wanita, kamu dirumah sendiri nggak apa-apa, kan?” Ternyata nenekku. Seperti biasa, selalu menyuruhku untuk tidak telat makan.

“ Iya..” Jawabku singkat.

Sendirian. Ya, kakak dan orang tuaku masih pada urusannya masing-masing.

Aku masuk lagi kedalam kamarku. Melihat sekeliling, ‘berantakan sekali..’ batinku. Tiba-tiba, sesuatu terlintas di pikiranku. Aku baru menyadari, saat kami ada di desa penghasil batik itu, Abel selalu mendekatiku. Bukan hanya untuk melihat, tapi untuk mengajak bicara. Parahnya, setiap kali dia mendekat aku bertingkah cuek, seakan-akan tak ada orang di dekatku. Masalah yang kami alami memang tidak besar, tapi cukup unuk membuatku bergidik.

Perutku terasa lapar. Hingga akhirnya aku memakan gado-gado yang sudah disiapkan oleh nenekku tadi. Lumayan, walau tak banyak dan rasanya sedikit tidak enak, tapi cukup mengobati perutku. Aku mengingat Abel, dia adalah salah satu orang yang makan banyak. Aku jadi geli mengingat tingkahnya saat meminta untuk ditambahi makanannya.

Ya, aku tersadar. Akulah yang selama ini egois. Aku selalu marah dan cuek kepadanya tidak mau mengerti perasaannya. Tidak dengan dia, Abel jarang sekali bersikap cuek dan marah terhadapku, dia selalu membuatku terus nyaman dengannya. Aku sangat merasa bersalah. Ingin sekali aku berbicara lagi dengannya, sahabatku, yang selalu mendukungku.

‘Drrttt... drtttt...’ aku merasakan handphoneku bergetar di dalam kantong celanaku. 1 Messages. Ternyata pesan dari Niel.

FROM : NIEL

Hai... lagi ngapain kamu? Btw, besok berangkat pagi yuk... sekalian ngerjain PR yang belom selesai.

TO : NIEL

Sama siapa aja nih?

FROM : NIEL

Biasa, sama Abel, sama Juan... nggak sama Lika, kok... Hahahaha

TO : NIEL

Oke deh.. :D

Yes! Kesempatanku untuk kembali akrab dengan Abel dan meminta maaf padanya.

Dengan perut yang sudah terisi, aku mulai merasakan kantuk yang sangat amat. Aku pun kembali masuk ke dalam kamar. Ku lihat jam kuno di atas meja belajarku menunjukan pukul sembilan malam. ‘Sudah malam ternyata...’ Ujarku di dalam hati.

Setelah doa malam. Aku pun bergegas tidur. Tak lupa mengucapkan selamat malam kepada keluargaku. Sambil berharap mimpi yang indah, aku memikirkan lagi tentang Abel. Dia memang sahabat yang sempurna di mataku, dia teman yang sangat baik. Semoga Tuhan menyertainya... dan aku pun tertidur.

Pagi harinya, aku terbangun dengan diiringi suara alarm handphoneku. Aku pun bergegas menyiapkan diri untuk pergi ke sekolah. Ya, walaup jam masih menunjukan pukul setengah enam pagi.

Dengan girang, aku melangkah menyusuri jalan kampung menuju sekolahku. Aku tersenyum melihat ke langit. Langir biru itu bagaikan sedang tersenyum lembut kepadaku. Meneriakiku untuk tetap semangat. Awan putih seperti gumpalan kapas juga menghiasi langit biru itu. Semakin indah rasanya. Angin yang sangat hangat menyentuh kulitku. Nyaman. Itu yang kurasakan.

Aku senang melihat langit. Karena langit melambangkan kemuliaan Tuhan yang sangat besar. Aku sangat senang melihat warnanya. Biru. Seakan-akan aku berada di sana. Melayang-layang di permukaannya yang sangat luas. Ya, luas... Luas bagaikan hati yang mau memaafkan orang lain, yang mau menerima orang lain, siapa pun orangnya.

Sesampainya di sekolah aku disambut hangat oleh teman-temanku. Disana, Abel dduduk sembali tersenyum simpul melihatku datang. Aku mebalasnya dengan gummy smileku. Aku menatap matanya, telah lama aku merindukan tatapan sahabatku ini.

Terlihat bayangan berwarna biru melintas di matanya. Ya, biru itu... biru langit. Dimana dia selalu menerimaku, memaafkanku di setiap aku salah. Seperti langit yang salangat luas, mau menerima siapa saja yang ingin memandangnnya. Inilah sahabat yang sebenarnya, mulia. Penuh kemuliaan Tuhan.

-Tamat-

  

Share:

3 Comment